Kamis, 01 Desember 2011

alam semesta kita menurut islam

Rabu, 05 Oktober 2011
 
Artinya : "Dan Kami tiup di dalam terompet. Itulah hari terlaksananya ancaman" (QS. Qaaf : 20)
Dalam dalam Surat Qaaf (50) ayat 20 di atas, ayat tentang tiupan terompet banyak terdapat dalam Al-Quran. Misalnya dalam Az-Zumar (39) ayat 68 :
"Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)."
Lalu Surat Al-Kahfi (18) ayat 99 :
"Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya"
Atau Surat Yaasiin (36) ayat 51 :
"Dan ditiuplah sangkakala, Maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka".
Dalam semua kitab tafsir, tiupan sangkakala/terompet di ayat-ayat tadi selalu diartikan sebagai peristiwa di hari kiamat. Dr. Wahbah az-Zuhaily dalam Tafsir Al Wasith menguraikan bahwa tiupan terompet di hari kiamat itu tiga kali. Pertama, tiupan yang menggentarkan, lalu kedua yang mematikan seketika seluruh makhluk. Tiupan ketiga tanda mulainya hari kiamat, di mana semua dibangkitkan dan dikumpulkan.
Ada hadits yang menarik, Abu Hurairah ra. menyebutkan bahwa as-shuur, terompet, dalam ayat tadi berbentuk tanduk besar, yang ditiup tiga kali di hari kiamat. Kemudian dalam kitab Al Mufradat karangan Raghib al Isfahany, as-shuur bisa juga berarti gambar atau mantra.
Kalau kita cermati, Al Quran menyebutkan bahwa tiupan itu selalu "di dalam" terompet, wanufikha fi-shshuuri. Mengapa terompet? Mengapa di dalam?
Frank Steiner, ilmuwan University of Ulm Germany, mengamati pola titik-titik panas dan dingin radiasi microwave kosmik, yang bisa menggambarkan bentuk alam semesta 380.000 tahun setelah Big Bang. Projek Wilkinson Microwave Anisotropy Probe dari NASA membuat peta titik-titik tadi secara mendetail pada 2003. Hasilnya ialah pola itu cenderung memudar, yakni tidak ada titik panas dan dingin yang tampak melebihi jarak rentang 60 derajat. Ini menyimpulkan bahwa ketika mengembang, alam semesta terulur panjang. Sempit di awal dan kemudian makin lebar seperti corong. Mirip bentuk terompet abad pertengahan. Subhaanallah, selama ini bentuk alam semesta dianggap seperti bola yang mengembang ke segala arah.
Akhirnya, Frank Steiner dan kelompoknya yakin bahwa alam semesta bukanlah berbentuk bola, tetapi berbentuk terompet. Alam semesta bukan meluas tak terbatas tetapi dibatasi oleh ujung terompet. Jadi, alam ada awal dan akhirnya. Allaahu Akbar. Hanya Allah yang tidak berawal dan berakhir, "Huwal awwalu wal akhiru". Ketika seseorang menjelajah terus ke ujung alam, yakni ke bibir terompet, dia akan membalik ke sisi seberang dan kembali ke awal.

Barangkali itu makna firman Allah tentang hari kiamat, Kami tiup di dalam terompet, yakni kelak ditiupkan getaran dahsyat yang mematikan di dalam alam semesta yang bentuknya terompet tadi. Maka matilah semuanya. Lalu di dalam terompet tadi ditiupkan getaran yang menghidupkan lagi. Wallaahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar